Jumat, 27 September 2019

Tumurun Private Museum, Museum ber-AC di Solo

Tumurun Private Museum ini jadi salah satu tujuan wisata di Solo. Museum ini milik pribadi, bukan punya pemerintah. Tenang aja, ini gratis dan terbuka untuk umum. Tapi ya sayangnya gak bisa dadakan. Pengunjung harus register dulu, buka akun Instagram @Tumurunprivatemuseum. Lalu klik di link bio nya web site untuk register. Pendaftaran dibuka sejak satu minggu dari tanggal yg dikehendaki. Trus ngisi form, nama, jumlah pengunjung yang akan dibawa (maksimal 5), nomor telpon dan alamat email. Oh ya, klik juga jadwal (jam) kita berkunjung. Dari jam 09.00-14.00. Jatah kunjungan hanya satu jam per rombongan.



Kebetulan Saya bertiga dengan suami dan anak dolan ke museum ini Sabtu kemarin (14/9). Sebelum, petugas memberi edukasi tentang beberapa perarturan yang wajib dipatuhi pengunjung. Diantaranya, pengunjung hanya boleh berkeliling di lantai 1 saja. Sedangkan lantai 2 ditutup untuk umum. Dan ada beberapa aturan lain. Seperti ada area privat pemilik yang tidak boleh dimasuki area, dilarang menyentuh karya seni, menjaga jarak satu meter dari karya seni. Tidak boleh berisik, lari-larian, main petak umpet (eh ini inisiatif Saya bisikin anak Saya agar tidak nge prank Emboke, dengan pura-pura ilang alias main petak umpet).

By the way, museum ini bukanlah museum sejarah. Ya, bila berharap akan mengetahui sejarah panjang Kota Surakarta aka Solo sudah pasti akan kecewa. Museum ini seperti wadah atau galeri karya seni koleksi pribadi sang pemilik, Iwan Kurniawan Lukminto (putra pengusaha Alm. H.M Lukminto pendiri PT. Sri Rejeki Isman - Sritex ).

Setelah edukasi kami diizinkan masuk ke ruangan di lantai 1... ya lantai 1 thok. Semua karya seni di sini adalah karya seniman kontemporer. Senimannya masih muda atau masih ada (baca: hidup), kurlebnya seperti itu...

Dengan ruangan yang ber-AC, tempat ini sangat nyaman untuk pengunjung. Apalagi lampunya yang terang benderang. Banyak spot selfie dimana-mana, bikin penggemar selfie gak berhenti cekrek-cekrek. Ya soale itu, back ground nya kan karya seni yang indah -indah.

Kebanyakan memang karaya seni berupa lukisan. Tapi ada juga karya seni lain yang bikin alis agak mengkerut dikit... Tapi, nice...

Dalam kesempatan ini, Saya iseng nanya ke anak Saya tentang makna karya seni yang kami sukai. Jawabannya bikin Saya salut. Ternyata emang dia terkesan, bukan cuma liat oret-oretan aja gitu.... Kayaknya ada bakat jadi ahli semiotik ya anak Saya.

Nih, beberapa karya seni yang kami sukai...

Karya seni The Last Suffer (Jamuan Terakhir). Lukisan yang tergantung dibuat dari aksara jawa. Di meja juga dilukis yang sama, dari tulisan aksara jawa. Pada bagian atas terdapat lampu merah, juga sama. Meja dan kursi itu dilarang diduduki ya... 

Di dalam karya seni tiga dimensi ini ada ruang untuk mengintip permainan cahayanya. Apik.

Harus punya banyak mata biar bisa melihat... Hmmm?

Saya yang berkerudung hijau di belakang tengkorak ini. Hehehe.

Mozaik Merah Putih. Kesukaannya Suami dan anak.

Bingung.... Kata anak Saya.

Pinokio terhimpit banyak hal.

Salah satu kamar dalam karya seni Rumah susun. "Ibu, ada darahnya di situ... Hiiii" kata Anak Saya.

Replika VW kodok yang dibentuk jadi bunder kayak bola. Ini karya seni favoritnya anak kecil Saya...


Setelah satu jam keliling museum, waktunya makan-makan. Karena lokasinya di tengah kota banyak pilihan jajanan. Kuylah, maem.... Selamat berkunjung dan selfie-selfie.

Lokasi museum:

Jalan Kebangkitan Nasional No. 2/4, Sriwedari, Laweyan, Surakarta, Jawa Tengah.


Tidak ada komentar: