Kamis, 13 Oktober 2016

Diantara Pasar Tradisional Solo


Sewaktu tinggal di Palembang, hanya Pasar Cinde, Pasar 26 Ilir dan Pasar Jakabaring saja yang akrab dikunjungi. Termasuk lengkap dan ruame. Dulu nih dulu. Pasar tradisional itu masih sama persepsinya dengan becek, bau, dan awut-awutan. saking kliyengannya masuk pasar, Saya hampir pingsan. Jadinya kalo Ibu ngajak Saya ke pasar, pasti dititipin ke tukang bumbu langganan di Pasar. Dulu sih, Ibu Pe De aja ya nitipin bocah perempuan 8 thn, kalo sekarang mah, aduh mikir berapa ribu kali ya...

Kemudian saat di Jakarta. Cuma akrab sama Pasar Minggu dan Pasar Lenteng aja (pasar kecil di Lenteng Agung). Secara, anak kosan malas masak eh gak bisa masak sih. Cuma nemenin ketua geng belanja di pasar. Persepsinya pasar sih masih sama ya, bikin kliyengan. Itu dulu ya, era 2000an, mungkin sekarang sudah diperbaiki. Semoga saja, aamiin.

Nah, di Solo ini. Kotanya lebih kecil daripada Jakarta dan Palembang. Tapi Saya lebih akrab dengan pasar tradisional. Mungkin karena saat ini Saya sudah jadi Ibu Rumah Tangga (emang!). Jadinya masak terus dan harus irit. Di Solo, pasarnya ini banyak banget. Setiap kelurahan pasati ada pasarnya. Sewaktu Presiden Jokowi masih jadi walikota Solo tuh, getol banget renovasi pasar. Pas toh? Saya yang mudah kliyengan dengan pasar bisa nyaman loh ada di pasar tradisional.

Kenalan dulu deh dengan Pasar Gede. Pasar legenda bersejarah yang sudah ada sejak jaman kerajaan, tahun 1800an, tempat ini jadi pusat kota Karesidenan Surakarta. Tempat yang pernah dibakar saat chaos massa tahun 1998, dibangun ulang. Sebut saja pasar ini pasar wisata. Banyak turis mancanegara berkunjung ke pasar ini. Jadinya, you knowlah ya untuk harganya jadi gimana gitu. Saya kalo ke sana, beli dawet telasih dan lejongan thok, ledrenya juga enak. Jajanan semua deh. Kalo makanan khas Solo, Intip itu, kena deh Saya. Maharani! Maklum saja sering dikira turis, jadi dimahalin. Bukan turis mancanegara, turis dari Palembang. Logatnyo masih nempel bae, kebanyakan ngirup cuko. Ay dem!


Untuk belanja masakan sehari-hari, kenalannya dengan Pasar Kadipolo. Awalnya ke sana, karena nyari ikan gabus atau patin. Di sini sih, gak ada. Wkwkwk. Tapi lumayan ketemu varian ikan lebih banyak daripada ikan lele, nila atau bandeng. Alesan! padahal ke Pasar Kadipolo mung jajan es cendol jeruk nipis! Opo jenenge, aku lali! Cendolnya beda dengan cendol atau dawet yang di Pasar Gede. Cendolnya kecil-kecil, kuahnya gak ada santan dan terakhir diberi perasan jeruk nipis. Sueger banget. Kalo pas mau lebaran, ada penjual bumbu rendang, opor, sambel goreng dan lainnya, yang bikin Saya berasa chef! Racikan bumbunya pas lah pokoknya. Jangan tanya Saya, bumbu rendang terdiri dari apa, karena taunya beli yang udah diracik penjual bumbu giling. Posisinya di belakang (Selatan) pasar. 

Kemudian, Saya pun akrab dengan Pasar Jongke. Saya sebut pasar ini pasar rakyat nan ramah. Betapa tidak. Pedagang di pasar ini baek-baek deh. Meskipun logat Palembang masih kentalnyo cak ini, mereka tetap kasih harga murah, gak dimahalin. I lop yu ful dah. 

Terakhir, Pasar Kleco atau Pasar Sidodadi. Pasar ini paling akrab sekarang, karena dekat dengan rumah. Hampir semua kebutuhan terpenuhi di sini. Tapi, ya tapi, belanja ke pasar ini hanya beli ayam, daging atau ikan. Oh, susu segar. Selebihnya sih, melipir ke warung.

Sebenarnya masih banyak lagi pasar di Solo. Kurang gaul nih. Pasar apalagi yang akan dijelajahi? 

Rabu, 21 September 2016

Resto Ikan Salto Bale Kambang


Baru tau kalo di Resto Ikan Laut Salto di Pasar Ikan Bale Kambang ada pemancingan. Pas si Sulung, minta mancing.

Tempat makannya asik. Resto ini menghadirkan suasana laut. Beberapa perahu dimanfaatkan untuk menyimpan ikan atau meja makan. Meja makannya jadi panjang gitu, bok. Cukup untuk 15 orang.

Selain meja perahu, juga ada beberapa gasebo di atas kolam. Kami pun mengambil posisi gasebo ini. Niat awalnya ya karena pengen mancing. Minggu lalu (10/9), rencana ke sini tapi batal karena resto digunakan untuk menjamu Ibu Menteri Kelautan Susi Pudjiastuti. Sebenernya pengen nungguin, pengen jumpa bu menteri idola. Tapi pak suami menolak. Protokolernya bikin emosi jiwamu nanti, gitu katanya. "Kamu mau, nunggu satu jam untuk segelas es teh doang? Karen seisi resto sibuk melayani bu menteri", pungkasnya. Percayalah sama pak suami, pengalaman pribadinya dia sebagai pegawai negeri yang sering liat protokoler ribet. Eh, tapi perut juga sih. Emoh nungguin es teh satu jam! Well, Aku ketemu bu Susi via twitter aja deh.

Kesampaiannya sih Sabtu (17/9) ini.

Sebelum mancing, kami pesan makan siang dulu. Soalnya si Ibu udah kelaperan bow. Pilihan ikannya sih ada beberapa macam, Barakuda, Kakap, Kerapu, Gurameh, dan lain-lain (lupa saya). Ikan kakap seberat 5 ons jadi pilihan. Harga ikan di sini, Rp. 19.500 per ons kalo dibakar. Jika pengen dimasak asam manis harganya beda lagi. Jangan tanyakan kenapa, Saya pun tak tahu. Sebelum menjatuhkan pilihan, liat dulu insangnya ikan. Kalo masih merah, boleh deh. Saya pilih kakap juga karena itu, insangnya paling merah. Bisa jadi baru dateng atau segar. Hal ini pengaruh dengan cita rasanya setelah dimasak nanti.

Atau bisa juga pilih menu di daftar menu per porsi. Kami pilih seporsi fillet ikan dan seporsi bakso ikan.

Gasebo di atas kolam ikan ini bisa memuat hungga enam sampai delapan orang. Sambil melihat-lihat ke kolam pemancingan, bapake ngekek. 
"Kalo gak dapet iwak, jangan nangis yo," kata Bapak.

"Wong sing kethok bayi iwak thok," bisik Bapaknya di telingaku. Kami meminta anak-anak makan siang dulu baru mancing.

Di sini bisa sewa pancing dan umpan, Rp. 7500.

Setelah makan selesai, anak-anak mulai mancing dengan semangat. 15 menit pertama. Gelisah. Pindah tempat. Mencari kemungkinan iwak berkeliaran. Kata Si Sulung, jika ada gelembung udara di air, pasti ada ikannya. Kami nyengir-nyengir gak jelaas liat usahanya.
Biasa mancing di Janti, yang ikannya keliatan buanyak. Sengaja, biar kena pancingan, 3D (Ditimbang, digoreng, dibayar!!!)
Kemudian 30 menit kemudian, Si Sulung dapet ikan pertama, baby fish tapinya, seukuran jempol simbok. Release... Selang beberapa menit, dapet ikan kedua, Si Ragil, selanjutnya ikan ketiga, keempat, kelima. Semuanya di release. Ora tega bro, baby fish semua.
Kedua anak itu mulai penasaran. Mosok bayi iwak semua. Pindah tempat lagi. Sampe ke ujung kolam.
Satu jam kemudian. Si Sulung berhasil dapet ikan gede! Yeey!!!
Ibu dan Bapaknya yang underestimate sebelumnya, sukses dibuat melongo.
"Alhamdulillah! Lauk makan malem!" Seru Ibu gembira.
Namun tak dinyana bro, ikannya gak bisa dimasak. Malah diminta pengelolanya. Ternyata tuh ikan, adalah Ikan Mas tak biasa. Ikan Koi!
Sakjane pengen ngeyel. Mosok ikan koi ada di kolam pemancingan kayak gitu?

Lha, dibuat apa ikannya kalo dibawa pulang?

Ya, digoreng tho, Mas!

Akhirnya, Koi itu masuk ke akuarium di resto itu.
Ibu sedih, gak jadi buat lauk makan malem deh. Buat yang liat ikan koi di akuarium resto Ikan Laut Salto Bale Kambang. Itu hasil pancingan Si Sulung.

Catatan pas otw muleh.
"Aku mau beli joran. Ikut lomba mancing di kolam Bale Kambang," kata Si Sulung.


Rabu, 14 September 2016

Makna Idul Adha


Idul Adha di Solo beda loh dengan suasana di Palembang. Pertama kali lebaran Idul Adha di sini, pastinya kaget. Penyembelihan hewan kurbannya ya sama saja. Ada sapi, kambing, atau domba. caranya juga sama.

Bedanya itu adalah...