Sewaktu tinggal di Palembang, hanya Pasar Cinde, Pasar 26 Ilir dan Pasar Jakabaring saja yang akrab dikunjungi. Termasuk lengkap dan ruame. Dulu nih dulu. Pasar tradisional itu masih sama persepsinya dengan becek, bau, dan awut-awutan. saking kliyengannya masuk pasar, Saya hampir pingsan. Jadinya kalo Ibu ngajak Saya ke pasar, pasti dititipin ke tukang bumbu langganan di Pasar. Dulu sih, Ibu Pe De aja ya nitipin bocah perempuan 8 thn, kalo sekarang mah, aduh mikir berapa ribu kali ya...
Kemudian saat di Jakarta. Cuma akrab sama Pasar Minggu dan Pasar Lenteng aja (pasar kecil di Lenteng Agung). Secara, anak kosan malas masak eh gak bisa masak sih. Cuma nemenin ketua geng belanja di pasar. Persepsinya pasar sih masih sama ya, bikin kliyengan. Itu dulu ya, era 2000an, mungkin sekarang sudah diperbaiki. Semoga saja, aamiin.
Nah, di Solo ini. Kotanya lebih kecil daripada Jakarta dan Palembang. Tapi Saya lebih akrab dengan pasar tradisional. Mungkin karena saat ini Saya sudah jadi Ibu Rumah Tangga (emang!). Jadinya masak terus dan harus irit. Di Solo, pasarnya ini banyak banget. Setiap kelurahan pasati ada pasarnya. Sewaktu Presiden Jokowi masih jadi walikota Solo tuh, getol banget renovasi pasar. Pas toh? Saya yang mudah kliyengan dengan pasar bisa nyaman loh ada di pasar tradisional.
Kenalan dulu deh dengan Pasar Gede. Pasar legenda bersejarah yang sudah ada sejak jaman kerajaan, tahun 1800an, tempat ini jadi pusat kota Karesidenan Surakarta. Tempat yang pernah dibakar saat chaos massa tahun 1998, dibangun ulang. Sebut saja pasar ini pasar wisata. Banyak turis mancanegara berkunjung ke pasar ini. Jadinya, you knowlah ya untuk harganya jadi gimana gitu. Saya kalo ke sana, beli dawet telasih dan lejongan thok, ledrenya juga enak. Jajanan semua deh. Kalo makanan khas Solo, Intip itu, kena deh Saya. Maharani! Maklum saja sering dikira turis, jadi dimahalin. Bukan turis mancanegara, turis dari Palembang. Logatnyo masih nempel bae, kebanyakan ngirup cuko. Ay dem!
Kemudian, Saya pun akrab dengan Pasar Jongke. Saya sebut pasar ini pasar rakyat nan ramah. Betapa tidak. Pedagang di pasar ini baek-baek deh. Meskipun logat Palembang masih kentalnyo cak ini, mereka tetap kasih harga murah, gak dimahalin. I lop yu ful dah.
Terakhir, Pasar Kleco atau Pasar Sidodadi. Pasar ini paling akrab sekarang, karena dekat dengan rumah. Hampir semua kebutuhan terpenuhi di sini. Tapi, ya tapi, belanja ke pasar ini hanya beli ayam, daging atau ikan. Oh, susu segar. Selebihnya sih, melipir ke warung.
Sebenarnya masih banyak lagi pasar di Solo. Kurang gaul nih. Pasar apalagi yang akan dijelajahi?
Sebenarnya masih banyak lagi pasar di Solo. Kurang gaul nih. Pasar apalagi yang akan dijelajahi?