Rabu, 14 September 2016

Makna Idul Adha


Idul Adha di Solo beda loh dengan suasana di Palembang. Pertama kali lebaran Idul Adha di sini, pastinya kaget. Penyembelihan hewan kurbannya ya sama saja. Ada sapi, kambing, atau domba. caranya juga sama.

Bedanya itu adalah...



Jikalau Idul Adha di Palembang, perayaannya masih mirip dengan perayaan Idul Fitri. Menu masakan khas lebaran, seperti rendang, opor, sambel goreng ati pasti tersaji. Juga kue khas lebaran meskipun tidak sekomplit pas Idul Fitri.  Bagi orang yang sudah berhaji, menggelar silaturahmi keluarga. Kemeriahannya dilengkapi dengan acara bakar sate daging kurban.

Pagi hari menjelang sholat Idul Adha, disunahkan tidak makan dan minum sampai pelaksanaan sholat Ied. Setelah itu, langsung menyantap makanan khas lebaran itu.

Perayaannya itu yang sedikit berbeda.

Idul Adha di Solo, lazimnya tidak ada makanan khas lebaran. Seusai mengerjakan sholat Ied, tidak langsung pulang ke rumah. Sebagian ada yang memilih makan di luar rumah aka wisata kuliner aka keplek ilat. Rasa-rasanya, rumah makan se-Solo ini penuh semua. Keluarga mertua, biasa menyantap Soto di Soto Gading usai Sholat Ied. Pertama kalinya, Saya merayakan dengan cara ini, bingung loh. Rumah makannya penuh! Nunggu hidangan datang itu lama banget. Sampai-sampai Si Thole yang dulu masih berusia 1 tahunan,  muntah-muntah. Sepertinya perut Si Thole udah kelaparan. Sejak bangun tidur belum makan apapun, langsung diajak Sholat Ied dan antri makanan.

Setelah beberapa kali lebaran Ied Adha di Solo, Saya sudah jago dong mengatasi antrian lama di Soto Gading saat Ied Adha. Kemarin, Si Thole juga sudah besar, 8 tahun, adiknya 5 tahun. Caranya, jemput bola eh soto langsung dari dapurnya. Bila perlu bawa nampan sendiri, angkut Sotonya langsung ke meja pesanan keluarga kita. Ya, diikhasin saja, jika ada yang salah mengira.

"Mbak, Soto ayamnya enam ya," ujar pembeli Soto yang lain.

"Maaf, Bu. Pesan sama Mbaknya yang itu," jawab Saya.

Selain kebiasaan merayakan seperti keluarga mertua. Ada juga yang langsung menuju ke lokasi penyembelihan kurban. Melihat proses penyembelihan hewan kurban.

Kalau kami meluncur ke lokasi kurban setelah perut kenyang. Eh, ternyata kambingnya sudah dipotong. Padahal pengen ngucapin terimkasih pada si kambing.
informasigila.blogspot.com

Saat proses penyembelihan kurban itu Saya sempatkan menceritakan kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail kepada anak-anak. Agar mereka melihat proses itu bukan sebagai peristiwa yang kejam. Rasakan apa yang Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail alami saat itu. Nabi Ibrahim taat pada perintah Tuhannya. Dan Nabi Ismail, ikhlas menjalaninya. Meskipun tiga kali dihadang iblis.

"Apakah kamu tidak sayang dengan anakmu, wahai Nabi?" goda Iblis waktu itu.

"Kenapa Allah perintahkan menyembelih Nabi Ismail?" tanya Si Thole.

"Nabi Ismail adalah kepunyaan Allah. Allah memintanya kembali. Apakah Nabi Ibrahim mau mengembalikannya? Ternyata Nabi Ibrahim patuh dan taat dengan perintahnya. Ingat ya sayang, semua harta yang ada di dunia ini kepunyaan Allah. Jangan kita menguasainya dan sombong. sewaktu-waktu bisa saja Allah minta itu kembali. Dan kita harus iklas mengembalikannya," Jawab Saya.

Semoga Si Thole dan adiknya mengerti. Meskipun beda padang beda ilalang. Ehm, gak pas kayaknya tuh. Meskipun cara merayakan Idul Adha sedikit berbeda antara Palembang dan Solo, tapi maknanya sama saja.





Tidak ada komentar: